"Kloso Mendhong" (Fimbristylis globulosa) Mbah Musinem

🗓 15 May 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 53x dibaca

Akar Sejarah

Anyaman tikar mendhong (sering disebut mendong) memiliki akar sejarah yang panjang dalam kebudayaan Jawa, termasuk pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-15). Berikut adalah gambaran mengenai anyaman tikar mendhong pada zaman tersebut:

  • Fungsi Utama: Tikar mendong, yang secara tradisional dikenal di Jawa sebagai kelasa, digunakan sebagai alas duduk, alas tidur, dan alas untuk meletakkan barang, mencerminkan gaya hidup masyarakat yang bersahaja.
  • Penggunaan dalam Hunian: Diperkirakan pada masa kerajaan Majapahit, anyaman tikar, termasuk yang berbahan dasar tanaman rawa seperti mendong atau pandan, sudah digunakan sebagai alas lantai di rumah-rumah penduduk maupun bangunan kraton.
  • Bahan Baku: Mendong (Fimbristylis umbellaris) adalah jenis rumput rawa yang batangnya kuat dan lentur, menjadikannya bahan populer untuk kerajinan anyaman tradisional yang diwariskan turun-temurun.
  • Tradisi Kuno: Penggunaan bahan alam seperti mendong untuk anyaman merupakan bagian tradisi masyarakat lahan basah di Nusantara yang sudah ada sejak lama, dan tetap dilestarikan hingga kini, misalnya di daerah Jawa Barat.

Secara keseluruhan, anyaman tikar mendhong adalah bagian integral dari kebudayaan material masyarakat Jawa, termasuk masa Majapahit, sebagai pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga yang artistik dan fungsional.

Tikar mendong berperan penting dalam acara ritual adat

Anyaman tikar mendong, yang sering disebut "kelasa" dalam tradisi Jawa, memiliki peran penting dalam berbagai acara ritual adat. Tikar ini tidak sekadar alas duduk, melainkan simbol filosofis kesabaran dan keuletan.

Berikut adalah peran anyaman tikar mendong dalam acara ritual adat:

  • Alas Ritual dan Sesajen: Tikar mendong digunakan sebagai alas untuk duduk para sesepuh atau tokoh adat dalam upacara penting, serta menjadi tempat meletakkan sesajen.
  • Keperluan Upacara Adat: Tikar ini umum digunakan dalam acara tradisional seperti pernikahan, tujuh bulanan (tingkeban), atau upacara selamatan.
  • Penggunaan Spesifik: Di beberapa wilayah, tikar mendong digunakan dalam rangkaian pemakaman, termasuk saat prosesi penyemayaman di rumah duka sebelum dimakamkan.
  • Filosofi Kehidupan: Dalam budaya Jawa, tikar mendong mewakili kerendahan hati dan kedekatan dengan alam, karena terbuat dari bahan alami yang ramah lingkungan.
  • Kualitas Anyaman: Tikar mendong dikenal awet dan nyaman, sering kali dihasilkan dari kerajinan turun-temurun di daerah seperti Tasikmalaya.

Tikar mendong sering kali dikombinasikan dengan benang berwarna-warni yang menghasilkan motif unik, memperkuat nilai estetika dalam ritual adat.

Kerajinan anyaman mendong Mbah Musinem, apakah sebuah bisnis?

Kata bisnis (business) yang berarti kegiatan wirausaha dengan tujuan mencari untung secara finansial. Menurut tujuannya, usaha kerajinan Mbah Musinem (75) dapat diklasifikasikan sebagai sebuah bisnis walaupun keuntungannya tidak seberapa, namun jika dianalisis lebih lanjut secara manajerial dengan analisis ratio keuangan, liquiditas, solvabilitas dan rentabilitas pasti menunjukkan kondisi keuangan bisnis yang tidak sehat dan tentu akan segera gulung tikar. Namun tidak bagi Mbah Musinem, yang beralamat di Sungapan Dukuh, Kalurahan Argodadi, seorang pengrajin tikar mendong yang dijalani sejak puluhan tahun lalu namun ternyata masih eksis sampai sekarang, sungguh tidak masuk akal? Tentu saja bisa, disadari atau tidak, target usaha Mbah Musinem bukanlah suatu usaha yang profit-oriented belaka namun lebih kepada usaha yang bersifat sosial dan tradisi, dalam bingkai pelestarian tradisi budaya tradisional masyarakat yang masih cukup kental. Keuntungan non-material yang dia peroleh dirasa lebih bernilai bagi hidupnya dan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri.

Mengapa harus tikar mendong?

Pada saat ini produk anyaman tikar masih sangat populer dan masih sangat dibutuhkan masyarakat pedesaan pada umumnya untuk acara-acara pertemuan sosial seperti rapat-rapat, hajatan dan lain-lain karena cukup murah dan praktis. Hampir di setiap keluarga pasti memiliki tikar. Namun mereka lebih memilih jenis tikar plastik buatan pabrik yang memang lebih awet bukannya tikar mendong yang mudah rusak, berbeda ceritanya ketika puluhan tahun lalu sebelum membanjirnya tikar produk pabrik. Apakah itu berarti tikar mendong punah? Tidak tentu saja. Karena tikar mendong ini merupakan pelengkap dan wajib ada dalam acara-acara ritual adat seperti acara mitoni (tingkeban), hajat pernikahan (untuk alas sesaji) hingga sebagai pelengkap dalam prosesi pemakaman orang meninggal dunia,  dan tidak dapat digantikan dengan tikar plastik. Alasannya tentu saja ini sebuah tradisi turun-menurun dari nenek moyang.

Proses pembuatan tikar

Bahan utama tikar mendong ini adalah tanaman mendong (Typha angustifolia) yaitu jenis tanaman air yang tumbuh di rawa-rawa atau daerah berair dangkal. Mendong dikenal karena seratnya yang bisa digunakan untuk membuat anyaman, seperti tikar atau kerajinan lainnya. Di beberapa daerah di Indonesia, mendong dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan tangan yang bernilai ekonomi dan budaya. Bahan ini dapat diperoleh dengan cara membelinya di pasar. Mendong kemudian dianyam selama berhari-hari, tergantung ukuran, dengan proses finishing/pembersihan dan selanjutnya siap untuk dijual/digunakan. Kegiatan menganyam tikar mendong ini dilakukan tentu saja bukan sebagai mata pencaharian pokok untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, namun lebih sebagai usaha sampingan, dikerjakan di waktu-waktu luang kecuali untuk memenuhi pesanan yang harus segera selesai. Dengan berbekal ketekunan, keikhlasan dan kesabaran di tengah persaingan produk massal Mbah Musinem tetap berkarya sebagai pengrajin tikar mendong yang semakin langka, selagi kondisi kesehatannya masih mendukung sekaligus untuk menikmati masa tuanya.

Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita