Pemancingan Alam Kali Kontheng (Antara Nostalgia dan Realita)

🗓 04 May 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 146x dibaca
Pemancingan Alam Kali Kontheng (Antara Nostalgia dan Realita)

Sudah tidak asing lagi bagi para pemancing mania Jogja, sebutan spot mancing di kali Kontheng Sungapan atau sering disebut "Kali Klebeng" oleh masyarakat sekitar, sejak puluhan tahun yang lalu sudah sangat viral. Spot mancing ini berada di dusun Sungapan, Argodadi, Sedayu, Bantul. Argodadi adalah wilayah Bantul di ujung paling barat. Di seberang sungai Progo (sebelah selatan) adalah desa Tuksono, Sentolo, Kulon Progo. Kali Kontheng berada di sebelah selatan perempatan Sedayu/ Jl.Wates km 12, ke selatan sekitar 5 km. Berjarak 17 km dari kota Yogyakarta atau perjalanan sekitar 45 menit dengan kendaraan bermotor.

Kali Kontheng spot mancing yang legendaris dan mempesona

Penghobby mancing yang mancing di kali Kontheng sebenarnya bukan hanya sekarang. Sejak jaman dahulu kali Kontheng sudah menjadi spot mancing di alam liar yang populer. Ada sementara dari mereka yang mancing sekadar untuk menghabiskan waktu, mencari hiburan murah, sekadar mencari lauk bagi sekitar tetapi memang ada yang sengaja memancing sebagai suatu profesi pekerjaan untuk memperoleh pendapatan yang dapat menopang ekonomi keluarga. Ini cukup beralasan karena ketersediaan ikan di kali waktu itu masih sangat melimpah ruah. Namun sebagai suatu mata pencarian, ada sementara orang mencari ikan dengan cara lain, misalnya dengan menjala atau menjaring yang tentu hasilnya relative lebih banyak. Bagi orang-orang mancing hanya sebagai hiburan, biasanya dilakukan pada waktu senggang, pagi, siang, atau sore hari. Seiring perjalanan waktu, keberadaan kali Kontheng ini makin terkenal.  Pada tahun 1970an seingat penulis, pada malam hari libur atau malam hari-hari keramat menurut mereka misal malam Selasa Kliwon Jumat Kliwon, banyak pemancing dari luar Sungapan berdatangan untuk memancing selama berhari-hari atau bermalam-malam. Tak jarang para pemancing bisa strike, dan mendapatkan ikan yang besar. Mengapa begitu banyak ikan dari yang kecil hingga yang berukuran besar sekali dan tidak pernah habis dipancing? Jawabannya adalah karena genangan air. Pada waktu itu sekitar tahun 1970an, genangan airnya sangatlah dalam atau orang menyebutnya dengan "Kedhung" yang kedalamannya kurang lebih 8 meter di musim kemarau dan bahkan lebih di musim hujan. Airnya berwarna hijau dan sangat tenang karena sangat dalam seperti peribahasa mengatakan air tenang, menghanyutkan bagi orang yang tidak bisa renang. Pertanyaan berikutnya mengapa air bisa menggenang begitu dalam?  Karena pada waktu itu sungai Progo masih terisi penuh dengan pasir Merapi selama puluhan tahun sehingga menutup muara kali Kontheng, praktis air tertahan menjadi genangan yang sangat dalam sepanjang kali Kontheng ke arah utara sepanjang sekitar 1 km. Di tebing kiri dan kanan tumbuh tumbuhan liar yang subur utamanya adalah kangkungan, sejenis tanaman kangkung namun bisa tumbuh lebih besar dan berbatang cukup keras dengan akar-akarnya menjuntai sampai ke dalam genangan air. Dan di situlah menjadi habitat yang sangat ideal untuk berbagai jenis ikan seperti Sepat, Gurami, Kutuk, Lele, Sogo, Palung hingga Sidat atau Pelus. Namun dalam sejarah pemancingan, Pelus tidak pernah bisa dipancing karena ukuran ikan yang sangat besar bagaikan monster. Ukurannya bisa mencapai 150 cm dengan berat mencapai 12 kg bahkan 27 kg. Bentuknya mirip ular namun beda di kepala, ekor dan lain-lain. Pelus biasanya tinggal di rongga-rongga yang dalam. Sungguh luar biasa, kali Kontheng telah menyediakan kekayaan alam yang sangat melimpah.

Kali Kontheng riwayatmu kini

Sudah seperti hukum alam, semakin banyak penduduk semakin banyak masalah. Seperti yang dikatakan Thomas Robert Malthus dinamika pertambahan penduduk mengikuti deret ukur sedangkan produksi mengikuti deret hitung. Sudah bisa ditebak kira-kira masalah yang mengikuti adalah masalah kerawanan lingkungan karena dieksploitasi tanpa batas. Gambaran keindahan kali Kontheng yang kaya raya di atas adalah gambaran masa lalu. Namun sayangnya kondisi "kerajaan" ikan dan aneka ragam hayati di kali Kontheng ini sekarang sudah berubah, tak seindah dulu. Kedhung-kedhung yang dalam itu sekarang tinggal kenangan, jikalau dikenang justru air mata ini yang berlinang. Kedalaman airnya kini tinggal sekitar 1 meter karena sudah tiada lagi penahan debit air kali Kontheng, air kali melenggang ke sungai Progo menuju pantai selatan. Gundhukan jutaan kubik pasir kali Progo "hilang" entah kemana. Ironisnya justru kadang ditemukan sampah yang dibuang oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Sangat menyedihkan!!! Terus kalau begini kepada siapa kita harus mengadu? Kepada siapa kita harus "melaporkan" ? Jawabnya hanya satu, kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan kita akan bertanya apakah membuang sampah di kali itu berdosa atau tidak ? Namun demikian bukanlah berarti bahwa kali Kontheng kini tidak berguna lagi. Di pinggir kali ini masih banyak dikunjungi para pemancing mania dari berbagai penjuru. Mereka sangat menikmatinya dari pagi hingga sore bahkan malam hari. Menurut penuturan mereka, mereka masih bisa mendapatkan ikan Nelem atau Sogo dengan berbagai ukuran. Bagi mereka bukanlah ikan sebagai targetnya namun terlebih sekadar mencari hiburan dengan cara memancing.

Cerita kejadian-kejadian mistis yang tidak masuk akal

Belum lengkap kiranya kalau bercerita tentang sebuah kali kalau belum cerita tentang hal-hal yang mistis. Konon cerita kali adalah habitat makhluk-makhluk astral yang tidak kasat mata. Hal ini sangatlah cukup beralasan karena letak geografis yang sangat mendukung. Pohon-pohon tertentu seperti misalnya pohon beringin, gayam selain pohonnya yang rimbun dan seram pohon ini kata orang memang disukai oleh makhluk halus sebagai rumah tinggalnya. Kejadian-kejadian mistis sering dialami oleh pemancing khususnya di malam hari. Konon katanya, suatu ketika seorang pemancing tiba-tiba melihat suatu fenomena yang sulit dipercaya pepohonan berjalan di tengah kali melawan arus. Atau cerita lain yang lebih menyeramkan, seorang pemancing melihat pancingnya tiba-tiba bergerak cepat, dikira dimakan ikan dan ketika ditarik ke atas yang terlihat bukannya ikan, tetapi tengkorak manusia sambil tertawa-tawa nyengir menyeramkan, dan larilah terbirit-birit si pemancing. Dan masih banyak lagi. Boleh percaya, boleh tidak.

Kali Kontheng "banjir" ikan

Kiranya sudah bisa ditebak maksud istilah itu. Itu dimaksudkan waktu ketika di kali itu masih banyak sekali ikan yang mengambang mudah ditangkap tanpa alat. Penyebabnya adalah karena ulah orang yang dengan sengaja menabur obat di kali, kemudian ikan akan sekarat atau mati. Itu adalah saat yang menyenangkan bagi banyak orang sekaligus membahayakan lingkungan. Untungnya tindakan yang melanggar hukum ini sekarang sudah dilarang oleh pemerintah.

Perahu gethek, jembatan vital penghubung dua wilayah

Bagaikan selat Bali atau selat Sunda yang memisahkan dua pulau, kali Kontheng juga membelah wilayah Kalurahan Argodadi, memisahkan antara Dusun Sungapan, Sungapan Dukuh, Selo Gedong, Sumberan di sebelah timur dengan wilayah barat Argodadi antara lain Dusun Demangan, Bakal Dukuh dan Dumpuh. Sehingga dahulu kala pernah ada perahu "gethek" yang dioperasikan sebagai sarana mobilisasi warga antara Dusun Sungapan dan Demangan. Ini sebagai solusi yang luar biasa saat itu karena orang tidak perlu berputar jauh sekitar 2 kilometer untuk mencapai tujuan yang sama dengan berjalan kaki. Karena pada waktu itu belum banyak kendaraan bermotor.

Ikan endemic yang perlu dilestarikan

Di kali ini konon cerita hidup berkembang ikan yang disebut Sili atau Berot atau Berut atau Tilan (Mastecembelus Erythrotaenia). Ikan merupakan spesies keluarga belut berduri. Hidup diperairan berlumpur hingga diperairan yang deras, biasa tinggal disela-sela batu atau diakar-akar pohon di bantaran sungai. Ikan Sili atau Berot, beda daerah beda penamaan, semakin berkurang populasinya di perairan umum, akibat sampah dan limbah yang mencemari sungai. Ikan ini memiliki kandungan protein dan vitamin D, dipercaya dapat menurunkan kolesterol dan meningkatkan kerja otak besar, membentuk gel baru untuk membantu meningkatkan imun tubuh. Sebagai warisan kekayaan alam yang bernilai tinggi, ikan ini perlu dilestarikan agar tidak punah. Bahkan ikan ini dapat bernilai ekonomi jika diolah sebagai menu masakan special. Disamping itu seiring dengan isu-isu krisis global termasuk krisis pangan, seharusnya kali Kontheng juga mampu memberikan salah satu solusi dalam rangka menjaga ketahanan pangan.

Kali Kontheng sebagai sarana edukasi pelestarian keanekaragaman hayati

Seiring dengan kepedulian dan kesadaran masyarakat dan para pejabat wilayah terutama yang dicanangkan oleh Camat Sedayu waktu itu, Bapak Drs.Fauzan Muarifin, membungkus sebuah program konservasi lingkungan alam dalam bentuk upacara ceremonial yang bernuansa tradisional spiritual, yaitu tebar benih ikan bagi pasangan pengantin baru. Sebuah momen special yang memiliki nilai sejarah yang takkan terlupakan selama hidup bagi pengantin. Dengan didampingi dan disaksikan orang tua pasangan pengantin, kerabat dekat dan Dukuh Sungapan pasangan pengantin membawa bibit ikan kemudian dituangkan ke kali Kontheng dengan harapan mereka ikut andil dalam melestarikan keberagaman ikan di kali Kontheng. Kedua kali Kontheng juga dijadikan objek prosesi acara seremonial "Merti Kali". Prosesi dimulai dari pengambilan "Tirto Suci" dari sendang Ringin Mulyo di Pedukuhan Sungapan ujung timur kemudian dibawa oleh team khusus dalam sebuah arak-arakan oleh para tokoh spiritual, tokoh masyarakat dan pejabat setempat menuju ke tepi kali Kontheng kemudian dituangkan. Dimaksudkan sebagai simbol agar air sendang bisa menyatu dengan air sungai dengan harapan keberadaan air tetap lestari dan terjaga dari kepunahan mengingat bahwa air adalah sumber kehidupan bagi makluk hidup di bumi ini. Sebagai wahana pembelajaran dari Lembaga Pendidikan, kali Kontheng juga dimanfaatkan sebagai objek pengenalan dan pelestarian lingkungan bagi anak-anak (para siswa SD N Sungapan) dengan cara menaburkan benih ikan ke Sungai Kontheng.

Impian yang tak pernah terwujud

Tema Kali Kontheng sebagai sumber daya alam yang bernilai ekonomi sebenarnya pernah menjadi impian masyarakat dan para pemangku kepentingan. Impian itu sebenarnya bukanlah hal yang mustahil. Andai saja genangan air kali Kontheng itu masih seperti yang dulu, atau paling tidak mencapai kedalaman 3 sampai 4 meter di musim kemarau akan berbeda ceritanya. Para tokoh telah berwacana kali Kontheng akan diperdayakan menjadi spot wisata air hanya dengan bermodalkan perahu dayung disamping sebagai spot mancing yang potensial. Dengan manajemen yang baik tentu saja, kegiatan ini akan mengangkat tingkat ekonomi warga sekitar mulai dari pengelolaan parkir kendaraan, pemandu wisata, warung-warung makan dan ujung-ujungnya juga menambah pendapatan dusun. Untuk mewujudkan impian ini solusinya adalah membuat tanggul di dekat tempuran kali Kontheng-Progo untuk menahan debit air kali Kontheng. Tetapi itu sekali lagi hanyalah mimpi di siang bolong. Sekarang hanya bisa menunggu dan menunggu ada mukjizat dan belas kasih dan uluran tangan "dewa" penyelamat kali Kontheng.

Terima kasih telah berkenan membaca artikel ini. 

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita